Thursday, October 27, 2011

I Love My Life


Menulis.. Akhirnya aku menulis lagi.. Rasanya lama sekali.. Kapan aku terakhir.. menulis semua yang kupikirkan juga kurasakan? Atau kah hanya sekadar untuk mengisi waktu luang yang amat membosankan? Entahlah, aku sampai tak mengingatnya lagi.. Sedikit yang masih kuingat.. komputer pertama yang dihadiahkan kakak untukku.. (sayang sekarang udah rusak.. L), diary-diaryku.. (entah udah habis berapa diary.. hehe), kopi buatan ibu, juga boneka besar yang suka kujadikan sandaran duduk pas nulis.. ya, kurasa hanya itu.. Aku suka menulis.. Suka sekali.. Menulis itu salah satu cara untuk jujur ke diri sendiri atau bahkan ke orang lain.. Meluapkan apa yang kita pikirkan dan rasakan dengan apa yang mungkin tidak bisa kita ungkapkan lewat lisan secara langsung.. Karena memang pada kenyataanya, lisan kita mudah terbata, sedangkan pikiran dan perasaan kita tidak.. Hanya butuh menuliskannya pada selembar kertas kosong, kita belajar untuk jujur.. pada diri sendiri juga orang lain.. Itu yang kusuka dari menulis.. J
          Aku mulai belajar menulis sedari masih duduk di taman kanak-kanak. (ya iyalah..hehe) Kata ibuku juga guru Tkku, dulu aku anaknya bandel banget. Kalau nulis tuh lama banget. Kalau tulisannya jelek, dihapus terus. Sampai waktunya pulang, kalau-kalau tulisanku belum selesai, aku ogah diajak pulang. Yah, meski sampai sekarang masih bandel juga sih, hehe.. masuk ke Sekolah Dasar, kelas satu.. kelas dua.. kelas tiga.. kelas empat.. kelas lima.. nah, di sini nih aku bisa berpresatasi dalam menulis. Sekolah mengikutsertakanku dalam lomba mengarang cerita tingkat dikpora surakarta. Pas semi final aku peringkat pertama lho.. menyisihkan sekitar 50an siswa dari SD lain. Tapi pas di finalnya cuma dapat peringkat dua.. (ya sudahlah, berarti aku mesti belajar lagi!! J)
          Masuk ke Sekolah Menengah Pertama, di sini lah aku bertemu dengan kakak yang ternyata penulis lumayan terkenal. Semangat menulisku semakin menggebu. Aku ingin sepertinya. Dia menulis untuk orang lain. Tulisan-tulisan tangannya yang ternyata tidak hanya demi menyalurkan hobi, atau demi uang, tapi juga demi orang lain yang membutuhkan. Tulisannya membuat orang-orang yang membacanya menjadi sadar bahwa di luar sana, banyak sekali orang-orang yang tidak beruntung yang tetap bersyukur, tidak pernah lelah menggantungkan harapan mereka, berjuang dalam hidup mereka yang sebenarnya tidak mudah. Dan aku belajar banyak hal dari sana. Sayang, orang yang baik itu selalu cepat perginya. Tapi perginya tetap meninggalkan pelajaran. Pelajaran untuk kami yang mengambil hikmah dari apa yang ditulisnya. J
          Lanjut ke Sekolah Menengah Atas (SMA).. Nah, di sini nih masa-masa paling indah dalam hidup. (emang iya ya?hehe.. ) Bertemu dengan banyak hal yang baru. Lebih tepatnya menyadari tentang banyak hal dalam hidup baru sebagai anak SMA. KELUARGA.. yang nomer satu jadi ‘pemandu sorak hidupku’. Bapak yang kerjanya berapa kali lipat demi aku, ibu, juga kakak. Ibu yang nggak capek-capeknya kuajakin curhat, ini lah itu lah, memberi penilaian juga nasihat, sibuk di dapur buat masak masakan kesukaanku, selalu jadi ‘penengah’ pas aku-kakak lagi ‘perang’,hehe.. Kakak yang selalu bikin aku senyum, ngajakin berantem, antar jemput kemana-mana, kakak paling top sedunia.. :’) Next, SAHABAT.. di sini aku juga bertemu mereka. Mereka yang tak tergantikan. Ada di kala suka maupun duka. Mereka yang mau diajak ke kantin pas lagi pelajaran (lapeeer boo.. :D). Mereka yang suka nyomblangin orang seenak mereka (heemm.. :/). Mereka yang selalu nyontek tugasku juga mengijinkanku nyontek tugas mereka (dasar.. :D). Mereka yang sengaja Tuhan kirimkan buat jadi keluarga keduaku.. Terimakasih.. J
          Di SMA aku juga ikut organisasi sekolah, salah satunya juga tentang jurnalistik. Tidak jauh juga dari tulis-menulis kok. Tapi di sini, entah mengapa aku lebih tertari pada kejurnalistikannya, jarang ke menulisnya. Terkadang juga iseng nulis cerita fiksi terus dipublish di majalah sekolah. Organisasi ini dibayar sekolah lho, jadi dapat honor, ya lumayanlah buat jajan, hehe.. Dan lewat ini juga, aku dan beberapa temanku berhasil mencetak prestasi, lomba jurnalistik yang diselenggarakan pemkot surakarta bersama Bank Indonesia. (alhamdulillah yaa.. J)
          Saatnya lanjut setelah ngelantur kemana-mana, hehe.. Di akhir masa SMA ini juga aku mengalami ‘sesuatu’ yang –kata orang- indah. Merasakan bagaimana itu jatuh cinta.. (ciyeee.. hehe) Yah, kalau naksir sih beberapa kali udah, tapi yang ini ‘beda’. Pernahkah kalian mengagumi seseorang yang bahkan kalian belum mengenalnya? Dan kalian tidak tahu apa yang dia miliki yang membuat kalian mengaguminya? Hanya dengan memandangnya saja, lalu dia mulai masuk dalam pikiran kalian dan memaksa kalian untuk memikirkannya? Aku rasa aku merasakannya. Di akhir masa SMAku, di bulan yang selalu kunanti tiap tahunnya.. NOVEMBER.. Mungkin aku lah perempuan paling gila sedunia. Memaksanya yang menganggapku orang asing untuk menerima perasaanku. Sampai dia menggunakan berbagai cara untuk mengehentikan kegilaanku. Tapi aku ini punya bakat bandel yang luar biasa. Pantang menyerah meski terkadang lelah. Aku hanya ingin jujur dengan apa yang kurasakan, salah kah? Masa’ iya aku hanya jujur tentangnya pada diaryku saja.. lewat tulisanku saja? TIDAK! Sekali ini aku pengen jujur lewat lisanku. Menyatakan apa yang kupikirkan dan kurasakan, tidak hanya pada diriku sendiri, tapi padanya. Biar saja dia menganggapku gila, toh benar adanya. Yang penting AKU JUJUR TENTANG PERASAANKU dan DIA TAHU ITU! Egios kah? J Dan sampai saat dia tahu itu, aku masih harus berjuang lagi.. lagi.. dan lagi.. Biar dia ikut merasakan apa yang kurasakan padanya. Yang membuatku bahagia. Ini benar-benar indah. Indah sekali, sampai aku tahut kehilangan ini. Tapi sekarang, entah mengapa, bukan tentang ‘bahagiaku’ yang kuperjuangkan, melainkan ‘bahagianya’. Kebahagiaan seseorang yang membuatku bahagia. Dalam doa selalu kupinta yang terbaik untuknya juga orang-orang yang menyayanginya. Agar dia bahagia. Bahkan aku egosi untuk kesekian kalinya, memintanya dengan paksa untuk berjanji padaku bahwa dia bakal bahagia. Dia bilang bahwa dia bahagia bersamaku. Tahukah bagaimana perasaanku ketika kalimat itu keluar dari –aku harap- hatinya lalu lisannya? Hanya senyum.. dan dia tahu arti senyum itu. Semoga dia menepati janjinya, dia bakal bahagia. J
          Terimakasih, Tuhan.. atas segala yang Kau hadiahkan untukku. Satu harapan yang selalu kugantungkan pada-Mu.. aku pengen lihat orang-orang yang kusayangi bahagia dalam hidup mereka. Karena mereka lah yang telah membuatku bahagia.. terimakasih.. <3

No comments:

Post a Comment